3 Days in Hong Kong

Celebrating 20th Anniversary of the Establishment of the Hong Kong Special Administrative Region #hongkong #asymphonyoflights

Berpetualang 1.5 tahun di Eropa dengan segala kemudahannya berpindah dari satu negara ke negara yang lain membuat saya ingin kembali mempraktekkannya di Asia. Tapi bedanya saya merasa harus picky dan lebih banyak riset sebelum menentukan destinasi yang aman buat traveler wanita yang lebih nyaman jalan-jalan sendiri seperti saya ini. Keputusan untuk mengunjungi Hong Kong inipun cukup dengan banyak pertimbangan karena awalnya saya berencana untuk bepergian sendiri saja. Apalagi setelah membaca (dan untungnya sempat membaca) artikel tentang horrornya Chungking Mansions di daerah Tsim Sha Tsui, hampir mikir dua kali buat bepergian ke negara ini. Namun, pada akhirnya kakak saya bisa menemani jadi lumayan deh gak garing-garing amat travelingnya 😊

How to Get There?

Waktu bepergian saat itu adalah masih di masa waktu libur lebaran dimana tiket pesawat ke tujuan manapun mahalnya gak pake mikir. Sayapun membeli tiket ke Hong Kong ini dengan PP Hong Kong – Singapore yang kalau dihitung-hitung sih jauh lebih murah dibanding pergi lewat Jakarta. Harga tiket PP saat itu sekitar Rp 2.3 juta.

Colourful CabinPengalaman pertama naik pesawat Scoot ternyata nyaman banget dengan feature pesawatnya yang lumayan bikin saya norak. Pesawat ini cukup besar dengan kursi yang tersedia 9 seats/row dengan kombinasi 3-3-3. Saya yang duduk di kursi tengah cukup shock ketika melihat warna langit di jendela yang berwarna biru gelap sedangkan saat itu baru pukul 11 pagi! Setelah liat kanan-kiri dan nanya ke kakak saya yang duduk di sisi jendela, ternyata brightness jendela tersebut bisa diatur. Huff! Keren juga sih ngerasain suasana gelap didalam pesawat di waktu siang karena semua orang menggelapkan jendelanya hihi. Dan satu lagi keunikan yang saya masih agak mikir gunanya apa, yaitu lampu cabin yang warna-warni ini. Ada-ada aja yaa ..

Sejak awal saya merencanakan trip ke Hong Kong ini gak akan mensangsikan transportasi dalam kotanya yang sudah pasti teratur dan nyaman. Salah satu syarat saya berani travelling sendiri adalah harus ke negara yang public transportnya udah memadai, kalau susah saya males kalau sampe dijadiin celah buat dikerjain orang lokal.

Saya mendarat di Hong Kong International Airport yang berada di Pulau Chek Lap Kok dimana airport ini dibangun di atas tanah reklamasi. Waktu yang diperlukan untuk sampai di Central Hong Kong adalah 24 menit menggunakan MTR (Mass Transit Railway) dengan harga yang gak murah.

Satu tip ketika bepergian ke Hong Kong adalah lebih baik membeli tiket secara online karena diskon yang diberikan untuk pembelian tiket online bisa menghemat banyak, termasuk tiket MTR ini.

MTR HongKong - Central dilengkapi dengan USB Charger di setiap tempat duduknya

Harga tiket 2 ways (to/from) Airport dan 3 days tourist pass = HKD 280 (cashback HKD 50 jika mengembalikan kartu ke Customer Service airport sebelum terbang pulang). Harga diskon tersebut saya yakini murah dibanding beli tiket terpisah dimana harga tiket Airport-Central aja one-way nya HKD 100. Satu kekurangan menggunakan tourist pass adalah tidak bisa digunakan ketika menggunakan bus :(, ternyata ini hanya untuk moda MTR saja. Tiga hari nya dihitung 72 jam sejak tap in pertama yang tercatat plus sisa waktu hari sampai tengah malam di hari terakhirnya.

Sistem kartu transportasi pada umumnya disini kurang lebih mirip dengan EZlink nya Singapore, namanya Octopus. Bentuk octopus ini sebenernya tidak hanya berbentuk kartu, tapi bisa juga berbentuk seperti boneka gantungan kunci lucu-lucu deh pokoknya. Sistemnya dengan isi ulang di vending machine nya, bisa menggunakan moda transportasi apapun dan juga bisa digunakan sebagai kartu belanja di banyak gerai seperti 7eleven, drugstore setempat, kadang di toko baju juga ada yang bisa dibayar menggunakan Octopus ini.

Accommodation

Female Dorm Yesinn Hostel Causeway Bay.jpg
Female Dorm Yesinn Causeway Bay Hostel

Sepertinya banyak sekali hostel di Hong Kong ini memiliki kamar-kamar yang tidak satu bangunan dengan receptionist hotelnya. Rate hostel di Hong Kong ini ternyata diatas rata-rata yang saya pikirkan. Apalagi jika  lebih picky untuk menginginkan menginap di female dorm. Karena budget penginapan yang saya batasi dengan rate tertentu, hostel yang cocok dari segi harga, fasilitas, dan lokasi adalah hostel Yesinn Causeway Bay. Causeway Bay ini tidak terletak di central Hong Kong, namun aksesnya cukup gampang menggunakan MRT. Hostel ini pun berada di antara pertokoan-pertokoan mewah dan dekat dengan stasiun MRT Causeway Bay. Tempat check in dan female dorm yang saya pesan ternyata berbeda satu block. Tidak masalah sih sebenarnya, melihat kamarnya juga bersih, ada kamar mandi di dalamnya dan melihat beberapa wanita backpackers lainnya yang tampaknya baik-baik saja. Kekurangannya sih paling ga ada dedicated colokan untuk masing-masing bed. Jadi, beneran untuk nge charge gadget itu rebutan. Sampai-sampai harus bangun tengah malam, untuk gantian nge charge ☹.

Rate : HKD 559.68/ 4 nights

Attractive Places

1. Lantau Island

Ngong Ping Village merupakan sebuah desa yang berada di Pulau Lantau. Ngong Ping ini terkenal dengan budaya yang masih kental dan terdapat patung Buddha yang besaaaar sekali. Ketika kesana saya sih melihatnya seperti para Buddhist pergi umrah gitu. Alias kesana juga ada misi untuk berdoa dan beribadah. Tapi bagi para non-Buddhist, area ini memang area turis sekali. Kebudayaan yang ditampilkan bisa kita nikmati dengan nyaman dan mudah.

Mengunjungi Ngong Ping Village ini bisa dengan tiga cara, yaitu melewati jalur darat, air, dan udara. Jalur darat dapat ditempuh menggunakan bis lokal, terkadang group tour juga akan langsung menggunakan tour bus nya untuk sampai kesana. Jalur air bisa ditempuh menggunakan ferry. Namun, cara terbaiknya adalah menggunakan Cable Car ! Cukup beruntung saya bisa menggunakan cable car ini setelah 6 bulan sebelumnya berhenti beroperasi karena jadwal penggantian tali.

Ride Ngong Ping 360

Cable Car ini recommended banget buat kamu yang ingin menikmati pemandangan Hong Kong khususnya Lantau Island dan sekitarnya dari ketinggian. Crystal Cabin sangat saya rekomendasikan karena lantai nya berupa kaca, jadi agak semriwing dikit pas di bawahnya laut 😊

 

Harga menaiki Standard Roundtrip (HKD 255) dan Crystal Cabin roundtrip (HKD 325). Waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke Lantau Island dari Tung Chung Station sekitar 25 menit. Emang jauh banget sih perjalanannya. Tapi puas bangettt ngerasain desiran angin Hong Kong dari atas cable car (Naon).

Giant Buddha (Tian Tan Buddha)

Ketika sudah sampai di Lantau Island dengan menggunakan Cable Car, akan ditemui toko-toko souvenir di sepanjang jalan menuju Giant Buddha dan Po Lin Monastery. Tujuan pertama saat itu adalah melihat Giant Buddha. Buat non-Buddhist seperti saya ini, melihat Giant Buddha sih hanya beneran ingin lihat dan foto aja. Namun, untuk para Buddhist kesini adalah dalam rangka ibadah. Sebelum  menaiki tangga yang super tiada henti menuju Giant Buddha, terdapat kios yang bertuliskan Meals Price HKD 12. Awalnya sempat bingung maksudnya apaan ya ada jualan makanan tapi kiosnya kayak bukan kios makanan. Setelah melihat ada orang yang membeli ke kios tersebut dan mengantongi buah pear setelahnya, akhirnya saya tahu ternyata itu makanan persembahan.

Dibawah patung Buddha itu berdiri terdapat satu ruangan doa dan kios souvenir. Jadi, makanan (buah) yang dibeli tadi akan diletakkan di meja persembahan tiap kavling abu keluarganya dan sambil berdoa. Di ruangan ini, pengunjung lain boleh melihat-lihat, namun tidak boleh foto dan mengitari ruangan tersebut juga disarankan satu arah.

 

Buat kalian yang ga mau capek naik tangga, sebenarnya ada tempat parkir bus yang berada di sisi luar ruang doa. Menurut info, kita dapat menggunakan bus no 2 dari Mui Wo tujuan Ngong Ping dan bisa langsung sampai ke patung Buddha.

Po Lin Monastery

Setelah selesai mengunjungi patung Giant Buddha , saatnya turun tangga lagi dan jalan sedikit ke seberang dan menemukan Po Lin Monastery. Kuil ini juga digunakan untuk berdoa, yang menarik perhatian saya sih ada dupa yang dijual gedenya segeda bazooka. Mungkin maksudnya biar api dupanya nyalanya lebih lama kali ya, jadinya doanya tetap ada ga cepet ilang, kalau dupa yang cuma sekecil lidi sebentar doang kan langsung jadi abu (sotoy). Di dalam kuil ini terdapat patung-patung Dewa menurut kepercayaan yang mereka anut. Namun, agak kurang nyaman sih berlama-lama disini apalagi buat kalian yang kurang suka dengan bau dupa.

Ada beberapa obyek wisata lagi yang sayangnya gak sempat saya kunjungi, di antaranya Wisdom Path dan Thai O Fishing Village. Kalau kalian ada waktu boleh tuh coba kunjungi dua obyek wisata tersebut.

2. Victoria Peak (The Peak)

Pengalaman menuju Victoria Peak ini awalnya saya pikir salah dan sempat mengutuk kebodohan dengan minimnya memahami itinerary. Jadi, ada beberapa check point yang harus kita ketahui terlebih dahulu. Ada yang namanya Peak Tram Lower Terminus, The Peak Tower, Sky Terrace 428. Tujuan utama kita kan ke Victoria Peak, dimana Bangunan yang berada di Victoria Peak ini bernama The Peak Tower. Di dalam The Peak Tower inilah terdapat Museum Madame Tussauds, Sky Terrace 428, Peak Market.

Nah, untuk menuju ke Victoria Peak (The Peak Tower) ini dapat menggunakan dua cara.

1. Alternatif umum dan yang paling dicari adalah menggunakan Victoria Tram (atau Peak Tram). Tram ini terkenal sekali karena kelandaian relnya yang mencapai 4-27o. Apabila menginginkan naik ke The Peak menggunakan tram, bangunan yang harus dituju adalah Peak Tram Lower Terminus yang berada tidak jauh dari Central Station atau bisa juga menggunakan bus no. 15 C dari Central (dekat Star Ferry Pier 7 Bus Terminus). Setelah sampai di Peak Tram Lower Terminus tinggal beli tiket return (HKD 45) ke The Peak menggunakan tram.

Rencana inilah yang sebenarnya ingin saya lakukan, tapi dengan terlalu banyaknya informasi yang saya pegang tanpa membaca dengan saksama, rute menuju peak dengan alternative kedua lah yang saya lakukan.

2. Menggunakan bus No.15 dari stasiun bus yang dicapai dengan cara naik MTR ke Hong Kong Station, ambil Exit D. Setelah keluar dari Exit D, belok kiri dan nanti di sebelah kanan sudah terlihat stasiun busnya. Jalan ke lajur C, tempat bus No. 15 berada. Harga 1 trip sampai The Peak adalah HKD 9.8 dan gak bisa memakai kartu turis yang sudah saya beli. Harus menggunakan Octopus Card atau bayar cash. Kalau bayar cash di bus sih gak ada kembalian jadi siap-siap duit pas ya.

Perjalanan menggunakan bus ini pun lumayan lama, mungkin ada sekitar setengah jam. Cukup aneh karena sebelumnya saya belum pernah membaca deskripsi yang mengatakan harus menggunakan bus yang perjalanannya bisa selama ini dan seperti mendaki-gunung dengan jalan yang berkelok-kelok. Seketika insting berkata jangan-jangan ini langsung ke The Peak nya. Yaaah sensasi naik ke The Peak pakai tram nya gak kerealisasi dong?

Setelah sampai, ternyata beneran langsung nyampe ke The Peak Tower. Waktu itu sih masih sore, mau nungguin sunset pun mager soalnya bingung mau nungguin sambil ngapain. Seharusnya sih bisa ke Sky Terrace buat ambil-ambil foto Hong Kong dari ketinggian. Kalau gak dari Sky Terrace ini memang sulit sih karena masih terhalang pepohonan. Namun, berhubung pengen hemat jadinya ga ke Sky Terrace deh. Langsung ikutan antri naik tram balik ke bawah. Alhamdulillah masih ada kesempatan naik tram walaupun cuma one way.

Ketika sampai di Peak Tram Lower Terminus, cuma bisa bilang satu kata: GILA ! Antriannya GILA COY! Serame itu. Jadi, tram ini kan memang hanya satu, karena memang relnya cuma tersedia satu jalur. Jadi harus menunggu tramnya naik dan turun, dengan durasi sekitar 10-15 menit (round trip). Kalau untuk jalur naik, gak recommended sih. Ngantri! Ga kebayang!! Ya Tuhan ternyata selama ini saya sudah diarahkan ke jalan yang benar. Gak masalah deh setengah jam naik bus ke The Peak Tower daripada nungguin antrian tram ke atas. Will take time FOREVER!

3. Hong Kong Disneyland Resort

20170701_094105-01

Sampailah pada hari yang ditunggu-tunggu, hari ini kita bakalan main sepuasnya dari mulai buka sampai tutup di Disneyland!! Satu hal yang harus kamu perhitungkan sebelum berangkat ke Disneyland adalah CUACA. Dikarenakan kita bakalan beraktivitas outdoor di sepanjang hari, jadi pastikan cuaca juga mendukung ya. Kejadian nih waktu aku berangkat kesana, dua malam sebelumnya saya ngecek cuaca dulu dan ternyata cuaca di hari yang dijadwalkan itu hujan jadilah kita switch hari.

Tiket masuk ke Disneyland emang gak pernah murah. Ini merupakan kali kedua saya mengunjungi Disneyland setelah tahun lalu mengunjungi Disneyland Paris. Harganya kurang lebih sama sekitar Rp 1 juta jika diconvert ke rupiah. Namun, saat itu kebetulan sedang ada promo tiket ‘Play and Dine’, dengan harga HKD 589 juga mendapatkan meal voucher di restoran yang ada di dalam kawasan Disneyland. Beruntung banget soalnya free makanannya seharga HKD 99 – HKD 139!!

Disneyland Restaurant

Sebelum bercerita tentang arena bermain, saya ingin cerita dulu tentang restoran-restoran yang ada di dalam kawasan Disneyland ini. Diantaranya adalah (1) Starliner Diner, (2) Tahitian Terrace (Halal Certified), (3) Clopin’s Festival of Foods, (4) Comet Cafe, (5) Royal Banquet Hall, (6) Explorer’s Club Restaurant (Halal Certified), (7) River View Café. Seneng banget kan ada beberapa restaurant yang menyajikan makanan Halal.

Kemarin saya dan kakak mencoba makan siang di Tahitian Terrace. Enak banget makanannya dan tersedia makanan khas Asia seperti Indonesia, India, dan Singapore. Saya memesan Chicken Curry dan rasanya enak 😀

Wahana Permainan

Jangan berharap saya akan menceritakan pengalaman menaiki wahana permainan yang memacu adrenaline ya, saya hanya masuk ke area yang cupu-cupu lah pokoknya tapi surprisingly bagus bangeeet.

a. Adventure of Mickey

Pertunjukan ini dilakukan di dalam ruangan teater dengan konsep pertunjukan live dan animasi digital. Menyenangkan banget pokoknya. Wajib ditonton apalagi kalau bawa anak kecil, bisa sambil ikutan sing a long lagu-lagu Disney.

b. Simba Adventure

Masih berkonsepkan pertunjukan live, tapi kali ini adalah pertunjukan raja hutan, Lion king. Atraksinya seru banget dan meriah banget. Lebih ke arah pertunjukan akrobat juga. Recommended ditonton apalagi kalau membawa anak-anak.

c. Istana Boneka

Nah, kalau konsepnya seperti Istana Boneka di Dufan. Kita bakalan naik kapal dan mengarungi sungai yang di kiri-kanannya terdapat boneka-boneka yang memakai atribut khas berbagai negara di seluruh Benua. Tapi sepertinya boneka Indonesia kok gak keliatan yaa?

Boneka-bonekanya cantik semuaaa. Semua bersih dan terawat dan indah banget. Bisa sekalian belajar dan main tebak-tebakan asal kebudayaannya.

d. Parade

Hal ini juga yang paling saya tunggu-tunggu. Sebelum masuk area Disneyland, pastikan dulu memegang brosur jadwal pertunjukan ya. Disitu kita bisa lihat waktu dan tempat pertunjukan-pertunjukan yang akan diselenggarakan di hari tersebut. Biasanya kalau parade siang sih di sekitar jam 12 – 1 bakalan ada parade di depan istana.

Sebenarnya juga ada parade malam sebelum acara fireworks, tapi berhubung saat itu sepertinya mendung dan tepat di jam yang seharusnya parade tersebut mulai, hujan turun lebat banget, jadinya night parade dibatalkan. Banyak pengunjung yang jadinya langsung pulang karena mungkin berpikir fireworks juga akan dibatalkan. Tapi saya dan kakak keukeuh neduh di dalam toko dan menunggu sampai jadwal fireworks. Alhamdulillah hujan berhenti dan fireworks tetap dilakukan sebelum Disneyland tutup.

e. Disneyland’s Fireworks

Berhubung ini kali kedua saya menyaksikan Disney’s Fireworks, ada beberapa perbedaan yang saya temukan antara di Hong Kong dan di Paris. Menurut saya sih, fireworks di Hong Kong ini tidak semegah di Paris. Tapi pendapat tersebut subjektif ya, mungkin karena sudah kali kedua jadi udah hilang efek wow nya atau memang beneran gak semeriah di Paris.

Lagu dan jenis kembang apinya berbeda, dan tabiat penontonnya juga berbeda. Ketika menonton fireworks ini, seluruh pengunjung menunggu di depan istana. Ketika di Paris, semua orang harus duduk (lesehan) apalagi penonton yang berada di baris terdepan sampai diteriakin sama pengunjung yang berada di belakang. Tapi jadinya tertib sih dan semua orang dapat mengabadikan momen magical tersebut di tempat duduk masing-masing.

Nah, bedanya di Hong Kong ini orang-orang yang berada di barisan terdepan malah berdiri dan gak ada provokator yang nyuruh duduk. Akhirnya saya yang awaknya duduk lesehan, malah ikutan berdiri karena orang-orang tersebut menghalangi saya mengambil foto dan video.

4. BERBURU KULINER A LA HONG KONG!

1. Kam Kee Cafe

2. Tsui Wah

3. Cafe De Coral

 

http-signatures-mylivesignature-com-54494-336-764b5a3e1154b883f7d5aa5ad5e5d0c0

Follow my blog with Bloglovin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like