Essential Things To Know Before Visiting China

Mengunjungi China pada umumnya, dan Beijing pada khususnya bukanlah top list destination gue dan suami untuk berlibur – not in the near future. Namun, posisi Ali yang saat itu sedang internship di Guangzhou di saat yang bersamaan dengan rencana jadwal berlibur kami ke Seoul – yang udah diset dari awal tahun, membuat gue mengganti destinasi liburan tahun ini ke daratan China. Daripada mutung ga pergi kemana-mana ya kan?

How To Get There?

Ternyata perjalanan dari Indonesia saat itu ga ada yang direct flight ke Beijing, setidaknya harus transit satu kali di Singapore/ Guangzhou/ Hong Kong. Gue memilih transit di Guangzhou sekalian ketemu Ali disana, jadi terbang ke Beijing nya bisa bareng. Gue menumpang China Southern dari Soekarno-Hatta International Airport (CGK) ke Baiyun International Airport, Guangzhou (CAN) dengan durasi penerbangan 5h35m. Transit sekitar 2 jam dan terbang lagi dengan China Southern menuju Beijing Capital International Airport (PEK) dengan durasi 3 jam. Namun, berdasarkan pencarian hari ini ada juga ternyata direct flight ke Beijing menggunakan Air China dengan durasi penerbangan 7h10m. Mungkin tidak setiap hari ya ada penerbangan langsung ke sana.

Jika menggunakan China Southern, jangan lupa untuk pesan makanan Halal in advance ya. Karena terkadang menunya memang ada babinya. Kemarin sih sempat ada yang menunya bapao isi daging babi. In flight meals nya China Southern menurutku sih kurang enak. Menu halalnya dikasih gorengan terong dong. Naon banget coba perjalanan 5 jam gw dikasih makan terong goreng tepung lah.

Visa for China

Visa China ini cukup mudah didapatkan dan persyaratannya juga gampang banget. Nih buat yang berencana ke China, cukup mempersiapkan dokumen sebagai berikut:

  • Passport yang masih berlaku min. 6 bulan
  • Pasfoto ukuran 33mm x 48mm dengan background putih
  • Fotocopy KTP
  • Fotocopy Kartu Keluarga
  • Tiket pesawat
  • Bukti pesanan akomodasi
  • Mengisi form online di website embassy China
  • Membayar Rp 540.000

Pengurusan visa China ini dapat dibantu oleh Travel Agent. Gue pun menggunakan jasa Dwidaya Travel And Tour untuk mengurusnya, cukup datang di kantor Dwidaya terdekat dan fee pengurusan visanya pun hanya Rp 60.000. Waktu pengurusan sekitar 4 hari kerja dan dapat diambil kembali di Kantor Dwidaya. Untuk lebih lengkap dan update seputar visa China silahkan kunjungi website Embassy China ini ya.

The Great Firewall

Salah satu keajaiban tentang China juga adalah kehebatan jaringan internetnya yang sulit untuk ditembus. Untuk warga Indonesia yang sudah terbiasa pakai Whatsapp, nonton Youtube, buka Facebook, upload Instagram, cek peta di Google Maps, cari berita di Google ya mohon agak puasa dulu deh kalau ke China. Kecuali kita udah ready nembus dengan peralatan perang semacam VPN. Persiapan ke China kali ini gue menyewa seperangkat modem Wi-Fi portable nya Java Mifi. Jangan lupa pilih paket data internetnya kalau ke China yang include VPN ya, unless lo beneran puasa medsos disana. Harganya sewanya Rp 80.000/hari dan bisa diambil/dikembalikan di counter Java Mifi yang terletak di Terminal 3 keberangkatan Soekarno-Hatta (di depan area masuk Imigrasi).

DiDi

Beijing, layaknya kota besar Asia pada umumnya, juga didukung oleh public transport yang cukup memadai. Subway dan bus merupakan transportasi publik yang dapat diandalkan, tentunya dengan beberapa konsekuensi antara lain siap-siap berdiri karena warga Beijing ini memang no joke ramainya setiap saat. 

Terbiasa manja dengan transportasi online di Jakarta, ternyata di China pun juga sangat terbantu dengan kehadiran DiDi ini. Hanya saja syarat menggunakan DiDi ini adalah kita harus memiliki nomor ponsel lokal yang attached dengan WeChat ketika mendaftar. Selain itu, koneksi VPN juga harus dimatikan ketika menggunakan aplikasi ini. Untuk metode pembayaran dapat memilih antara menginput data credit card kita, Alipay, ataupun saldo di WeChat.

Untuk berkomunikasi dengan driver, chatnya juga sudah dilengkapi translation dr tulisan China ke Bahasa Inggris jadi inshaa Allah ga bakal batal jemput cuma gara-gara ga ngerti mau ngomong apa. Ketika udah di dalam mobil ada dua tipe driver nih, ada yang tipe ramah mencoba berkomunikasi terkait perjalanan dengan bantuan voice translator, atau ada yang bodo amat diem sepanjang jalan. 

Terkesan dengan experience DiDi kami pertama kali di Beijing, kami dijemput dengan mobil Jeep yang dikendarai driver cewek. Dia mencoba berkomunikasi dengan Ali yang duduk di depan dengan bahasa China yang pastinya ditanggapi dengan I don’t speak Chinese. Seketika dia mengambil hpnya dan menggunakan aplikasi voice translator, ternyata dia nanya “Anda mau tunjukin jalan ke tempat tujuan atau ikuti peta saja?” Lalu dia melihat ke belakang ke arah tempat saya duduk, dan mencoba berkomunikasi lagi yang artinya “Tolong kasih tahu yang dibelakang, pakai seat beltnya”. Hahaha yaaa mana saya tahu penumpang di belakang juga wajib pakai seat belt hihi.

Public Transportation

Penggunaan subway di Beijing ataupun Guangzhou tidak berbeda dengan subway di negara lain. Dengan pertimbangan dan membayangkan letihnya ga dapet tempat duduk kalau naik subway, jadi kami hanya membeli tiket-tiket sekali jalan di mesin tiket. Untuk tiket sekali jalan, dari mesin akan keluar ticket berbentuk koin plastik sebagai akses gate masuk dan keluar subway.

Ketika di Guangzhou, opsi murah menuju hotel, yang diinapi Ali selama internship, yang berada di district Nansha (2 jam dari Baiyun Airport) adalah menggunakan subway. Bayangin aja itu sepanjang perjalanan ga dapet duduk. Untung aja bawa koper yang bisa didudukin. Besok-besoknya ogah naik subway dan main ke pusat Guangzhou dari Nansha naik DiDi ampe bayar Rp 400 ribu 😀

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like