Top

Salam kenal semua, saya Ali suami dari Casa yang punya blog ini, kali ini saya akan berkontribusi dalam penulisan blog perjalanan kami ke Turki. So, here it goes…

How to Get There?

 

Depends on where you are, tapi kecuali kamu-kamu sekalian bukan orang Turki maka seharunya naik pesawat terbang 😀

Dalam perjalanan pulang kami dari Belanda ke Indonesia, kita berdua memilih untuk transit sekitar 23 jam 55 menit di Turki. Pengurusan visa untuk Indonesia di negara ini sangatlah mudah yaitu berupa Visa on Arrival (bisa juga Online), bayar sekitar 25 USD  dan berlaku selama 30 hari. Pemesanan secara online dapat dilakukan melalui website ini dan pembayaran dapat dilakukan melalui credit card.

Topkapi Palace

Kunjungan pertama kita setelah menaruh barang di hostel adalah Topkapi Palace, tempat ini sebenarnya dapat dijangkau dengan transportasi umum tapi karena hari berkunjung kita lagi lumayan banyak demo (bertepatan dengan Labor Day) makanya kita naik taksi ke sini (abang taksinya cukup ngerti bahasa inggris). Suprisingly, harga taksinya masuk akal dan juga memakai argo sehingga gak perlu tawar menawar harga sebelum naik.

Istana Topkapi dibangun atas perintah dari Sultan Mehmet sang Penakluk (Mehmet the Conqueror) yang mendapatkan gelarnya dengan menaklukan dan merebut Konstatinopel (nama lama Istanbul) dari Kekaisaran Romawi Timur (Eastern Rome Empire) sekaligus mengakhiri kekaisaran tersebut. Buat kalian yang suka sejarah pasti ngerti betapa pentingnya peristiwa dimaksud dan bagaimana kekuasaan Turki Utsmani (Ottoman Empire) menjadi kekuatan global dimasa itu.

Apa saja yang bisa dilihat di istana ini? Pertama kali masuk kita akan disuguhi dengan jalanan dan tembok-tembok yang menyuguhkan perpaduan gaya arsitektural antara Eropa Timur kuno (Western Roman) dengan Islam abad pertengahan. Istana Topkapi buka sekitar jam 10 tapi kita udah bisa duduk-duduk di halamannya dari pagi. Selanjutnya, begitu masuk kita akan dapat menikmati wisata budaya dan sejarah tentang kehidupan kerajaan Turki Utsmani di masa lalu, dari peninggalan dapur, Harem, Mesjid, Istana, dan ruangan-ruangan lainnya yang merupakan tempat tinggal keluarga raja.

Yang paling penting dari kunjungan ini buat saya adalah Museum peninggalan-peninggalan masa lalu yang ada di kompleks Istana Topkapi. Percaya atau tidak, banyak artifak-artifak yang di klaim sebagai peninggalan para Nabi, Rasul, dan ke-empat Khalifaurasyidin (Peace be Upon Them) disimpan di museum ini. Meski ga ada foto (karena dilarang) tapi saya pribadi merasakan getaran di hati paling kecil, dari melihat Tongkat Nabi Musa AS, Rambut Rasullah (SAW), hingga Dzulfikar (Pedang Ali bin Abi Thalib (PBUH)).

Setelah menikmati semua itu kita bisa menikmati makan siang sambil menikmati pemandangan Selat Bosphorus, selat ini menjadi saksi perjuangan Sultan Mehmet dalam menaklukkan Konstatinopel. Begitulah sekilas tentang Istana Topkapi, one good place in Istanbul.

Hagia Sophia (Ayasofia)

Berikutnya yang kita kunjungi adalah Hagia Sophia atau disebut juga Ayasofia (Turkish), ikon dari kota Istanbul. Setelah informasi di web yang menyebutkan bahwa tempat ini tutup di hari Senin, tapi rezeki anak soleh ternyata museum dibuka hari itu padahal bertepatan dengan hari libur nasional juga.

Kalau mau menelisik dari sejarah, bangunan ini mulai dibangun 100 tahun (kalender romawi) sebelum kelahiran Rasullulah SAW. Sebelumnya bangunan ini berfungsi sebagai Gereja (mostly Orthodox, pernah sebentar jadi gereja katolik roma) yang lalu dirubah oleh Sultan Mehmet jadi Mesjid dan sekarang jadi Museum. Buat kalian yang pernah berkunjung ke Cordoba, mungkin apa yang ada disini adalah kebalikan dari Mezquita de Cordoba. Walaupun saat ini Hagia Sophia hanya difungsikan sebagai Museum.

Bangunan ini merupakan saksi sejarah kebesaran Kekaisaran Romawi Timur dan Kesultanan Turki Utsmani karena sejak dibangunnya Ayasofia kota Istanbul hanya pernah dikuasai oleh dua Negara.

Bagaimana dengan Interiornya? selain banyak jejak  perpaduan dua budaya dan dua agama yang berbeda, kita dapat sangat melihat sisa-sisa kebesaran kerajaan dan kesultanan yang pernah memiliki bangunan ini. Mulai dari kaligrafi-kaligrafi Al-Qur’an yang sangat menggambarkan Islam, hingga Gambar-gambar kisah Biblikal (yang ga mungkin ada dalam Mesjid pada umumnya, mengingat penggambaran wujud manusia nabi dan rasul adalah hal yang tabu). Pada akhirnya saya sangat menikmati kemegahan bangunan ini, dimana Kaligrafi Allah SWT dan Rasulullah SAW dapat dilihat dari lantai 2-nya menghadap ke Mekkah yang ada di selatan dari kota ini.

Sultan Ahmed Mosque (Blue Mosque)

Berikutnya adalah Blue Mosque, kalau dipikir-pikir tempat yang dikunjungi ini satu jalan, karena Istana Topkapi ada di sisi timur Ayasofia, lalu di sisi baratnya ada Blue Mosque (Sultan Ahmed Mosque nama resminya).

Mesjid ini juga merupakan salah satu ikon kota Istanbul, dan sangat keliatan dari Ayasofia. Sebagaimana tempat Ibadah yang jadi situs turis pada umumnya (Vatican  atau Kuil2 di Thailand), disini kita harus berpakaian sangat sopan (wajib menggunakan penutup kepala alias kerudung) dan ga boleh pake alas kaki ke dalem (namanya juga Mesjid).

Mesjid ini dibangun di lokasi yang dulunya adalah Istana dari Kekaisaran Romawi Timur (Eastern Roman Empire/Byzantine) sebagai unjuk kekuasaan dan kekuatan dari Sultan Ahmet yang pada tahun 1400-an kalah perang melawan kekaisaran Russia.

Buat yang suka mengikuti konflik Timur Tengah atau pernah belajar tentang Turki atau ahli sejarah atau hal-hal yang berkaitan lainnya, kalian pasti tau kalau Paus Benedictus pernah berkunjung ke Mesjid ini pada Tahun 2006.

Posisi Turki yang berada di 2 Benua, 2 Budaya, 2 Agama (terlepas denominasi atau sektenya apa), dan banyak Negara ditambah dengan Ribuan Tahun Sejarah yang menyisakan bangunan-bangunan yang megah seakan memperlihatkan pentingnya peran negara ini unuk menjembatani hubungan antara 2 Budaya (Timur dan Barat) dan 2 Agama (Islam dan Kristen).

Grand Bazaar

Gak jauh dari kedua lokasi yang telah dikunjungi sebelumnya, kini saatnya mengunjungi pasar ala Turki atau yang dinamakan Grand Bazaar.

Tujuan utama kesini sebenarnya hanya ingin mencari oleh-oleh. Mulai dari segala jenis makanan khas Turki, baju, karpet khas Turki tersedia disini dengan harga yang beragam.

Hasil perburuan kami hanya menenteng souvenir magnet, gantungan kunci, pernak pernik Turkish Blue Eyes dalam bentuk tasbih, dan Baklava.

Khusus oleh-oleh Turkish Delight ini emang bikin lapar mata. Cuma cemilan yang rasanya super giung ini (plus berat) kami batasi dengan hanya membeli 2 kg Baklava.

Kalau menurut banyak sumber, ada satu toko yang menjual Baklava terenak se Turki, namanya Karakoy Gulluoglu. Sayangnya kami tidak sempet berkunjung ke tokonya karena sempat membaca juga katanya dijual di Airport. Tapi setelah kami cari semalam suntuk di seluruh souvenir shop di Airport hasilnya nihil 🙁

 

Trying out Turkish Food

Tempat makan yang satu ini hasil perburuan menggunakan Trip Advisor app. Letaknya tidak begitu jauh dari Grand Bazaar. Kami hanya berjalan kaki untuk sampai kesini. Makanan khas Turki yang rasanya enak banget dan harganya murah. Saking banyaknya turis berkunjung kesini, di setiap meja makan pengunjung banyak mata uang negara lain yang diselipkan di bawah kaca meja tersebut. Rupiah juga ada loh!

So, siapapun yang sedang dalam bepergian dari barat ke timur atau sebaliknya menggunakan Turkish Airlines, sempatkan deh memilih tiket dengan waktu transit yang cukup panjang karena kota ini wajib banget untuk kamu kunjungi.

Perjalanan ini dilakukan pada tanggal 1 Mei 2017

Kontributor: Muhammad Ali Rini

Editor:

post a comment