Top

Perjalanan panjang perawatan kulit wajah yang acne prone ini memang jauh sudah kumulai sejak SMA. Sedih sih kalo inget awal dari perjalanan panjang ini hanya karena rasa penasaran dan terbuai dengan komersial salah satu brand kecantikan yang berkonsep multilevel marketing, Oriflame. Waktu umurku 13-14 tahun jerawat pubertas emang lagi panen – panennya di wajah. Seketika tergoda untuk nyobain produk anti acne nya Oriflame yang berbahan dasar tree tea oil setelah diracuni oleh temen yang udah duluan mengkonsumsi. Hebat juga ya dipikir2 MLM bisa merasuki anak-anak SMP. Sialnya gw sempat tergoda. Singkat cerita produk tea tree oil ini ga cocok dengan kulit wajahku. Boro2 membaik yang ada jerawat semakin meradang. Duh. Tapi setelah dipikir2 mungkin juga ada pengaruh dari stress masa muda yang kualami. Belajar, ngerjain PR sampe malem, belom lagi pacar ngambek (eh), sehingga kulit pun ikut-ikutan stress.

Perkenalan dengan klinik kecantikan dimulai sejak SMA. Dari muncul jerawat pertama kali sampe SMA, aku membiarkan kulit ini tidak tersentuh chemical yang aneh-aneh. Hanya mencoba memakai face wash biasa yang dibeli dari supermarket atau drug store terdekat. Alasan akhirnya berani mulai perawatan di klinik adalah umur yang dirasa udah cukup remaja, jerawat yang tak kunjung henti, ada klinik kecantikan ternama di deket kosan di Bandung, dan tentunya sokongan dana dari nyokap. Karena perawatan di klinik memang membutuhkan modal yang ga sedikit.

Setelah lelah dengan perawatan di klinik yang menguras kantong dan hasil yang tidak terlihat sama sekali, perawatan pun di stop setelah kurang lebih setahun rajin bolak balik treatment. Hal yang kulanjutkan setelahnya adalah semakin careless dan asal-asalan. Sampai akhirnya ketika sudah kuliah aku menemukan satu produk face wash yang surprisingly cocok dan sampai mendapat pujian dari teman2ku. Namanya Himalaya. Produk ini awalnya kudapatkan di salah satu drugstore di Batam. Drugstore tersebut berisikan banyak produk2 yang biasanya diambil dari Singapore. Produk inipun asalnya Made in India, namun disekitar tahun 2013 tiba-tiba aku menemukan produk Himalaya ini terjual bebas di supermarket di Mall Artha Gading, Diamond Supermarket, dengan harga yang jauh lebih terjangkau. Hanya sekitar Rp 23.000 per 100 ml tube. Ternyata produk ini sejak saat itu (2013) sudah ada distributor resminya di Indonesia. Wah, apa ternyata bukan aku aja yang merasa produk ini bagus. Bahkan di salah satu drug store di Delft pun aku menemukannya walaupun harga untuk 100 ml nya sekitar Rp 100.000. Sampai saat inipun, face wash Himalaya ini masih jadi andalan banget buat sehari-hari.

Hasil dari treatment yang dulu rajin kujalani dan masih terlihat sampai sekarang adalah pori-pori kulit wajah yang besar-besar di kedua pipi kiri dan kananku akibat ekstraksi-ekstraksi jerawat yang berlebihan sehingga wajah ini semakin mirip dengan permukaan bulan. Nah, permasalahan kulit yang masih ingin dan mencoba bertekad untuk dimulai perawatan kembali adalah perawatan terhadap pori-pori yang terlihat besar-besar ini dan juga acne scars di banyak spot 🙁

Suatu hari di awal November ini, aku sempat melihat IG stories @harumips, beauty blogger, yang sedang melakukan perawatan di Surface Skin Habit dan menunjukkan hasil ekstraksi jerawat dari facial yang ia lakukan serta merekomendasikan tempat tersebut. Telisik coba telisik ternyata Surface Skin Habit ini lumayan sudah terkenal di kalangan beauty bloggers dan semacam direkomendasikan, apalagi kliniknya yang sering disalahartikan dengan coffee shop karena designnya yang emang tidak terlihat seperti klinik kecantikan pada umumnya.

Langsunglah mengunjungi websitenya untuk melihat treatment-treatment apa saja yang ditawarkan dan kisaran harga perawatan. Treatment yang disediakan sangat beragam dan bisa dibilang lengkap, hanya saja untuk orang awam yang jarang melakukan perawatan wajah, istilah-istilah treatment yang tercantum cukup membuat bingung untuk memutuskan treatment apa yang kira-kira cocok. Saran untuk website Surface Skin Habit, mungkin bisa lebih menjelaskan definisi dari masing-masing treatment, untuk kulit wajah jenis apa saja yang disarankan untuk melakukan treatment tersebut. Karena kebutaan inipun akhirnya aku memilih dengan asal treatment yang akan kureserve di weekend ini.

Review terhadap klinik ini akan aku ceritain berdasarkan pengalaman pertamaku ya. Review jujur dan ga berbayar, mungkin bisa dijadikan bahan referensi ataupun bahan diskusi. Ini pure yang aku rasakan sejak mulai membuat appointment sampai pembayaran di kasir.

 Pros :

1. Pembuatan appointment sangat mudah. Awalnya aku hanya chat via website chat untuk tanya-tanya sedikit mengenai treatment yang aku incar, kemudian pembicaraan berlanjut ke WhatsApp dan disana aku disarankan untuk bertemu dokter dulu untuk kunjungan pertama.

2. Ruangannya super cozy, dingin, wangi, dan musik yang diputer juga enak. Untungnya aku dikasih yang di dalam ruangan sendiri. Jadi beneran private. Kalau diluar banyak juga sih tempat tidur gitu tapi hanya dibatasi tirai pembatas.

3. Hydroderm Facial ini adalah facial tanpa rasa sakit. Jadi cara mengangkat sel kulit mati, komedo, dan jerawat-jerawat yang menyumbat pori-pori dengan menggunakan mesin. Rasanya sih kayak di vacuum gitu dan hasil nya adalah seperti gambar di bawah ini …

4. Hal yang super gak disangka-sangka adalah kulitku dianalisa merupakan kulit super sensitif. Asli aku cukup kaget ketika seluruh cleanser, masker, dan cream apapun yang diberikan di wajahku rasanya seperti panas dan terbakar. Bener-bener dari awal bukan setelah di dermabrasi, bahkan di treatment awal yang hanya cleansing aja langsung kulit muka perih dan lama-lama kerasa terbakar. Therapistnya cukup panik sih melihat aku selalu bilang “duh, mba kok mukaku kerasa panas ya”. Untungnya therapistnya ramah banget jadi aku ngomongnya pun baik-baik, tapi kerasa banget kalau mbanya jadi hati-hati karena sepertinya kulitku sensitif. Oh, ya ketika pertama kali melihat kulitku memang sih mba nya bilang “Wah mba kulitnya kering sekali”. Seketika aku bingung, aku pikir kulitnya berjenis oily soalnya gampang berminyak sekali dan baru kali ini ada yang komen kalau kulitku kering. But, I took it as a good thing karena aku jadi semakin tau dengan kondisi kulitku saat ini, dan pengerjaan therapist menjadi sangat hati-hati.

Cons :

1. Sistem appointment yang semacam tidak terintegrasi antara kedua cabang klinik yaitu cabang Setiabudi dan Cabang Citos. Nah, berhubung sempat ada kesalahan appointment di awal karena aku minta untuk direserve perawatan di cabang Setiabudi. Setelah mendapat konfirmasi email, barulah Customer Service menyadari kalau dokter yang di Setiabudi sedang cuti sehingga aku disarankan untuk ke Cabang Citos. Setelah di booking kan di Citos, sistemnya seperti mencatat namaku di kedua tempat. Dengan membookingkan appointment baru, CS nya tidak menganulir appointment yang pertama. Alhasil, ketika konfirmasi lewat telfon sejak 2 hari sebelum perawatan (iya ga ngerti kenapa harus kekeuh banget nelfonin konfirmasi sejak 2 hari sebelum perawatan), aku ditelfon oleh kedua cabang tersebut. Rempong deh pokoknya. Konfirmasi pun berlanjut sampai minus 3 jam sebelum perawatan. well… -_-

2. Hal yang paling aku kesalkan dan jadi bad first impression banget adalah hasil dari telfon konfirmasi dari 2 hari sebelum untuk memastikan aku datang sesuai jam yang direserve yaitu jam 3 sore dan aku datang on time bahkan lebih awal 10 menit. Di ganjar dengan ketidak ontime an dokternya yang baru aja keluar makan, soalnya habis treatment megang pasien banyak. Kalau mau ketemu dokternya dulu paling nunggu sampai SETENGAH EMPAT ! Gosh! It really pissed me off !! Sebenarnya pengen ngamuk tapi gw tahan-tahan manner juga soalnya receptionist yang di Citos menurutku sih kurang ramah. Coba aja ramah mungkin mau ngamuk juga ga enak..

3. Lah trus gw bilang, bukannya dimana-dimana konsultasi dokter dulu ya baru diarahkan perawatannya apa. Alhasil si receptionistnya bilang, kalau mau langsung perawatan dulu gpp mba ntar dokternya di sela-sela perawatan nyamperin ke ruangan. Yauda, akhirnya daripada ngabisin waktu yang ga jelas, aku minta perawatan dulu dan sesuai dengan apa yang aku reserve aku minta di Oxy Facial. Trus si mba ini bilang kalo untuk mba pasti disaranin Hydraderm Facial dan IPL. Dalam hati, ini si mba nya dokter juga bukan main nyaran-nyaranin aja. Setelah aku tanya Hydraderm ini apa, seperti bukan hal yang aneh sih kayaknya dulu waktu SMA juga pernah treatment yang kayak begitu. Akhirnya aku minta Hydraderm aja, which is harganya 2x lipat dibanding Oxy Facial. Yha namanya juga cari duit. Bisa ae kan nyaranin ini itu yang penting mah masuk pendapatan, muke aing runyam setelahnya bukan urusan mereka, secara mereka minta tanda tangan surat pernyataan gitu kalau treatmentnya menyebabkan hal-hal yang tidak diinginkan di luar tanggung jawab mereka. Oh, Hell-o! Oh, ya dokter yang dijanjikan datang di sela-sela treatment pada akhirnya ga ada tuh! Malah nyamperin setelah keluar ruangan doang. Basa-basi banget. Apa gunanya.. mentang-mentang konsultasi dokternya gratis 🙁

4. Kalau lihat di review beberapa blogger, untuk yang di cabang Setiabudi disediakan mesin pendeteksi jenis kulit wajah gitu. Jadi, dari awal bisa ketauan apakah jenis kulit kita kering, normal, oily, atau sensitif. Sayangnya di cabang Citos mesin tersebut tidak tersedia sehingga aku ga bisa ngecek dulu jenis kulitku yang sekarang. Karena sampai saat itu aku masih mengira bahwa jenis kulitku adalah berminyak.

5. Ketika wajahku langsung kerasa panas ketika pemberian masker setelah facial dermabrasi selesai dilakukan, therapist langsung menghapus kembali masker dan izin keluar sebentar karena ingin bertanya kepada dokter. Aku pun berharap dokternya masuk ke dalam untuk melihat kulitku yang sepertinya bermasalah ini. Tapi nyatanya NIHIL, therapistnya kembali ke dalam ruangannya dengan membawa Hydrokortison, salep yang biasanya digunakan apabila kulit iritasi gitu. Total perawatan yang katanya seharusnya 1 jam 20 menit pun, selesai hanya dalam waktu 1 jam karena banyak step-step yang harus aku skip karena ketidak cocokan dengan krim yang dipakai. So sad…

6. Oh ya sebenernya aku agak males sih kalau ke dokter kecantikan tapi kulit dokternya sendiri ga mulus. No Offense ya! Cantik sih tapi kann… yaaa begitulah..

Yha! Begitulah review kunjungan pertamaku ke Surface Skin Habit. Ga tau lagi bad luck atau memang kurang cocok tapi begitulah ternyata kondisinya berdasarkan pengalamanku. Mungkin untuk kalian yang jenis kulitnya normal-normal aja lebih bisa dapat review lebih baik.

See ya!

Harga Hydraderm Facial : IDR 845K

Konsultasi Dokter : IDR 150K (include di perawatan jadi FREE)

Comments:

  • April 9, 2019

    thank you banget ya untuk reviewnya. susah banget nyari review yang jujur tentang tempat facial begini!

    reply...

post a comment