Top

Pengalaman adalah guru terbaik dalam perjalanan hidup seseorang. Alangkah lebih baik lagi jika pengalaman tersebut dapat dibagi ke banyak orang. Tidak terkecuali dengan pengalaman studi saya menempuh jenjang pendidikan master (S2) di Negeri Kincir Angin, Belanda. Pada tahun 2015 saya dan beberapa kolega di kantor mendapatkan tugas belajar di Belanda selama 18 bulan. Tugas belajar tersebut dalam artian kami dikirim dengan tujuan utama untuk meningkatkan kualitas aset perusahaan, dalam hal ini sumber daya manusianya, agar serta merta dapat segera berkontribusi dalam peningkatan kualitas perusahaan.  Mau tau lebih banyak serba-serbi tentang kampus? Yuk, simak pengalaman studi saya menempuh S2 UNESCO-IHE Delft berikut 🙂

(Beware of the long post)

Kenapa disekolahkan di Belanda? Kenapa disekolahkan di institusi pendidikan tersebut? Semuanya diluar kendali saya. Saat itu kami hanya diberikan tawaran oleh perusahaan apakah bersedia untuk disekolahkan di UNESCO-IHE di Delft, Belanda. Jika bersedia akan segera didaftarkan oleh perusahaan dan diminta untuk melengkapi administrasi yang diperlukan seperti IELTS, visa, cover letter, motivation letter, CV, ijazah, dan tak lupa sessi interview lewat skype.

Pengalaman studi S2 di UNESCO-IHE Delft ini menurut saya pribadi sangat berbeda dengan menempuh pendidikan S2 pada umumnya. Dengan segala ‘perbedaan’ yang saya rasakan tersebut, tampaknya akan menarik dan semoga bermanfaat bagi yang membaca tulisan ini. Sekaligus sebagai pengingat saya akan salah satu kenangan yang tidak mungkin dilupakan ini.

Akademisi vs Profesional

Kebetulan saya adalah orang teknik, jadi semua yang saya bahas ini dari sudut pandang orang yang menempuh studi dan bekerja di bidang teknik ya, mungkin belum tentu bisa disama-artikan dengan jalur S2 di bidang hukum, sosial, komunikasi, ataupun kedokteran. Dulu, sebelum saya mengenal lebih dalam tentang UNESCO-IHE ini, tidak pernah terbayangkan oleh saya bisa mendapatkan suatu pengalaman belajar yang cukup unik. Latar belakang saya S1 Teknik Sipil, setelah itu saya langsung mengambil S2 dengan jalur fast track dengan keahlian bidang rekayasa struktur. Saat itu sepertinya saya memahami ‘banyak sekali teori’, namun ketika dicemplungkan ke dalam suatu real case tidak semudah mempraktekkannya di kertas ujian.

Yang saya rasakan dan baru disadari adalah pendidikan-pendidikan yang saya dalami tersebut menjadikan saya seorang akademisi, dan belum tentu bisa menjadikan saya seorang praktisi (kalau tidak disertakan jam terbang lapangan yang tinggi). Mungkin sebagian orang merasakan jenuhnya rutinitas pekerjaan kantor dan seperti membutuhkan semacam knowledge upgrading. Namun, satu hal yang tidak dapat dipungkiri adalah kemungkinan bertemu aljabar dan integral lipat tiga yang selalu jadi momok setiap menempuh pendidikan teknik, membuat cita-cita untuk sekolah lagi memudar.

Kampus ini membuat saya tertarik ketika pertama kali melihat silabusnya. Belum pernah saya ketahui, bahwa ada suatu sekolah yang menawarkan jenjang pendidikan master dengan materi kuliah yang sangat practical. Singkatnya nih ya, kita bakal diajarin from A to Z seputar bidang keahlian tertentu dan yang diajarinnya tuh kebanyakan best practice nya, tidak terlalu mendetail tentang teori asal muasal, jadinya impact ke kitanya sangat real dan kebayang penggunaan prakteknya di lapangan.

Tapi memang resep sebelum sekolah disini adalah harus punya dasar engineering yang kuat juga. Jadi ketika kuliah, dosen sudah menganggap dasar teori itu sudah ada di otak mahasiswanya dan beliau hanya mengajarkan kembali pengaplikasian teori di dalam suatu case study. Berbeda dengan kampus pada umumnya yang sangat menitikberatkan pengajaran pada dasar teori, karena mungkin cara pandangnya adalah ketika seseorang sudah sangat memahami teori dasar maka mau permasalahan seperti apapun pasti bisa diselesaikan.

So, kamu lebih tertarik menjadi seorang akademisi atau praktisi?

Keduanya pasti sama baiknya, tinggal sesuaikan saja dengan kebutuhan akademismu ya. 🙂

Sekilas tentang UNESCO-IHE Delft / IHE Delft

(Disclaimer: Sebagian besar content mengenai UNESCO-IHE Delft/ IHE Delft disadur dari website ini)

Kampus kecil yang terletak di pusat Kota Delft ini memang kalah tenar dengan kampus tetangga yang sangat tersohor akan pendidikan bidang tekniknya (read: Technische Universiteit Delft atau biasa disebut TU Delft). Tapi setelah merasakan, menimbang, dan memutuskan bahwa kedua kampus tersebut tidak sepenuhnya bisa dibandingkan. Mereka memiliki keunggulan tersendiri dan memang sasaran mahasiswanya juga berbeda. TU Delft mencetak para akademisi, sedangkan UNESCO-IHE mencetak praktisi.

UNESCO-IHE | Institute for Water Education

Institusi pendidikan ini berdiri sejak tahun 1957 yang sudah mencetak banyak sekali water professionals yang sebagian besar berasal dari negara berkembang.

The Institute offers a unique combination of applied, scientific, and participatory research in water engineering combined with natural sciences, social sciences and management and governance. (www.un-ihe.org/about-ihe-delft)

Nama UNESCO-IHE ini berubah menjadi IHE Delft sejak awal tahun 2017. Jadi, nama institusi ketika saya masuk dan lulus berbeda. Saya kurang memahami adanya perubahan nama tersebut, yang saya tangkap hanyalah karena perubahan pengoperasian yayasan yang semula dari UNESCO beralih menjadi Pemerintah Belanda.

Sasaran Mahasiswa

Keberadaan institusi pendidikan UNESCO-IHE ini sendiri adalah jawaban untuk permasalahan di negara berkembang khususnya di bidang perairan. Kebanyakan sih masyarakat di negara berkembang ini kurang paham cara mengatasi permasalahan air bersih, lingkungan yang tercemar (dalam hal ini air), penanganan banjir, pertahanan pesisir, sampai cara pengambilan keputusan terkait masalah perairan.

Sasaran mahasiswanya adalah para profesional di bidang perairan, insinyur, peneliti, konsultan, dan pejabat pembuat keputusan di bidang perairan dan lingkungan.

Nah, khususnya di Indonesia para mahasiswanya sebagian besar memang orang-orang yang berkecimpung di bidang air dan lingkungan. Dan kebetulan teman satu angkatan saya sebagian besar adalah orang-orang yang sedang cuti tugas belajar.

Jadi biasanya siapa sih orang Indonesia yang sekolah disini?

  • Terbanyak adalah pegawai Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Variasinya lebih banyak juga, ada yang kesehariannya dibidang teknik air, teknik lingkungan, social science.
  • Kedua terbanyak adalah pegawai pelabuhan (seperti saya). Rata-rata sih insinyur teknik sipil.
  • Konsultan lingkungan;
  • PNS Provinsi DKI (bidang lingkungan dan kebersihan);
  • Pegawai BLHD (bidang lingkungan);
  • Pegawai di perusahaan pulp and paper : biar produksi perusahaan tetap eco-friendly.

Program Studi

UNESCO-IHE ini hanya menawarkan program MSc dan PhD. Saat ini hanya akan saya info kan program MSc nya ya. Program master ini ditempuh dalam waktu 18 bulan. 12 bulan untuk masa kuliah dan 6 bulan waktu research atau penyusunan tesis.

Terdapat 5 MSc program dengan banyak spesialisasi didalamnya antara lain:

1) Water Management and Governance

  • Water Management and Governance (Delft based)
  • Water Cooperation and Diplomacy (Joint Programme with Oregon State University, USA dan UPEACE, Costa Rica)

2) Urban Water and Sanitation

  • Sanitary Engineering (Delft based and Joint Programme with Univalle, Colombia)
  • Water Supply Engineering (Delft based)
  • Urban Water Engineering and Management (Joint Programme with AIT, Thailand)

3) Environmental Science

  • Environmental Planning and Management (Delft based)
  • Environmental Science and Technology (Delft based)
  • Applied Aquatic Ecology for Sustainability (Delft based)
  • Environmental Technology and Engineering (Erasmus Mundus Programme with Ghent University, Belgium and UTC, Prague, Czech Republic
  • Limnology and Wetland Management (Joint Programme with Egerton University, Kenia and BOKI, Austria

4) Water Science Engineering

  • Hydroinformatics – Modelling and Information Systems for Water Management (Delft based)
  • Hydrology and Water Resources (Delft based)
  • Land and Water Development for Food Security (Delft based and Joint Programme with University of Nebraska-Lincoln, USA)
  • Hydraulic Engineering and River Basin Development (Delft based and Joint Programme with UniKL, Malaysia)
  • Coastal Engineering and Port Development (Delft based) → Spesialisasi yang saya ikuti
  • Flood Risk Management (International Master Programme with TU Dresden, Germany and the University of Ljubljana, Slovenia)
  • Groundwater and Global Change – Impacts and Adaptation (Erasmus Mundus Programme with TU Dresden, Germany and University of Lisbon, Portugal)

5) One Year Master of Science Programme in Sanitation (Delft based)

In partnership with Bill and Melinda Gates Foundation

Selengkapnya bisa baca disini.

Konsep Pengajaran

Total program MSc ini mencakup 106 ECTS credit points yang terdiri dari 61 ECTS dari modul pelajaran selama setahun dan 45 ECTS untuk Thesis Research. Pada masa setahun pertama, mahasiswa akan dijejali 13 modules. Umumnya setiap module terdiri dari 3 minggu teaching period atau masa pengajaran di kelas. Setelah 2 modules berturut-turut selesai (6 minggu pengajaran di kelas) akan dilakukan ujian di minggu berikutnya untuk kedua modules tersebut. Biasanya ujian akan dilakukan di minggu ujian di hari selasa dan kamis. Hari Selasa untuk module ganjil dan hari kamis untuk modul genap.

Konsep pengajarannya akan berbeda di setiap spesialisasi. Kali ini saya akan menceritakan khusus di spesialisasi Coastal Engineering dan Port Development ya.

  • Foundation Phase : 2 modules
  • Specialization Phase : 6 modules
  • Field trip and field work : 1 modules
  • Elective Phase : 3 modules
  • Interdisciplinary problem solving phase (Groupwork) : 1 modules

Dengan konsep pengajaran seperti ini, ternyata tidak semua orang mampu beradaptasi. Bayangin aja selama setahun itu belajar nonstop. Setelah 6 minggu belajar, masa intensif belajar ujian modul ganjil dimulai di Jumat malem minggu keenam sampai hari Senin karena akan ujian di hari Selasa dan mulai mencicil sedikit bahan untuk ujian modul genap di hari Kamis. Kalau berhasil tidak remedial ujian di module sebelumnya artinya akan mendapatkan long weekend. Kalau harus remedial, jadwalnya di setiap hari Jumat. Gak kebayang kan hecticnya. Dan kalau di modul selanjutnya failed juga artinya harus siap-siap remed banyak di Hari Jumat exam week berikutnya.

Dengan konsep pengajaran seperti itu menjadikan mahasiswa rentan sekali di Drop Out. Rasanya kalau sudah kena remedial sekali, nyawa tuh udah habis 1/3. Karena kesempatan bisa mengikuti remedial hanyalah 3x kesempatan. Kalau masih tidak bisa lulus, akan segera mendapatkan surat Drop Out dan harus siap segera dideportasi.

Tentang Mahasiswa

Seperti yang saya sebutkan sebelumnya bahwa mahasiswa yang belajar disini berasal dari Negara berkembang. Mostly Asia, Afrika, dan Amerika Selatan. Walaupun ada juga yang berasal dari USA dan Eropa.

Tentang Pengajar

Bisa dibilang pengajar tetap di kampus ini tidak cukup banyak. Kebanyakan mereka juga menghadirkan dosen tamu yang juga profesional terkenal di Belanda. Jadi, cukup menarik belajar langsung dari pakarnya.

Fasilitas Kampus

Beberapa fasilitas kampus yang menurut saya sih tidak terlalu sophisticated diantaranya:

1)    Laboratorium aquatic ecology, microbiology process. dan analytical laboratories

Saya pribadi sih tidak pernah sama sekali menggunakan laboratorium di kampus karena tipikal laboratorium sipil itu membutuhkan space yang sangat luas. Dan kampus kecil ini rasanya tidak mampu mengakomodirnya sehingga ketika ada kegiatan di lab pun kampus meminjam fasilitas kampus TU Delft.

2)    Perpustakaan dan ruang membaca

Perpustakaan kampusnya kecil sekali dan tersedia ruang membaca yang biasanya dipenuhi oleh mahasiswa yang sedang mengerjakan tesis. Namun, mahasiswa mendapatkan akses ke banyak digital library secara gratis. Bermanfaat sekali ketika perlu mencari referensi paper untuk keperluan tugas maupun tesis.

3)    Auditorium kapasitas 300 orang

Auditorium ini biasanya dipakai untuk kelas besar dan bisa disekat menjadi dua ruangan.

4)    Restoran atau cafetaria

Di kampus ini terdapat cafetaria yang dibuka hanya di saat jam makan siang saja. Namun, karena sebagian besar mahasiswa berasal dari Asia dan Afrika, menu kantinpun menyesuaikan. Karena orang Asia dan Afrika pantang banget cuma makan siang sandwich 😀

5)    Meditation Room

Ruangan ini dapat digunakan oleh agama apapun untuk kepentingan meditasi atau sembahyang. Yang pasti mahasiswa beragama Islam mendominasi pemakaian ruangan ini. Selain ruangannya juga disediakan fasilitas keran wudhu, jadi alhamdulillah kampus ini mengerti akan kebutuhan agama minoritas. Selain itu, ruangan ini juga sering dijadikan ruangan untuk Yoga.

6)    Spot belajar

Kampus ini banyak sekali spot tempat duduk yang bisa dijadikan tempat untuk berdiskusi maupun individual study. Area meja kantin di luar jam makan siang juga dijadikan tempat belajar.

7)   Unlimited credit for printing and photocopy!

Senangnya disini adalah fasilitas nge print dan fotocopy yang semacam unlimited. Sebenarnya ada batasnya tapi setiap ngeprint atau fotocopy credit yang berkurang sedikit sekali dan setiap bulannya kita mendapatkan tambahan credit. Fasilitas ini amat sangat membantu. Ditambah juga disediakan fasilitas menjilid ring. Jadi, ga ada cerita pergi ke abang jilid ama fotocopy disini. Bahkan buku tesis pun dicetak oleh pihak kampus. Di basement kampus ini terdapat area percetakan. Yang biasanya mencetak modul-modul pelajaran.

8)   Dapet laptop!

Sebenarnya saya ga paham entah kenapa mahasiswa wajib menggunakan laptop yang disediakan kampus. Sebenernya penggunaan laptop ini bisa dibilang gratis. Awalnya memang mahasiswa diwajibkan memberikan deposit 300 euro. Jika setelah lulus menginginkan laptop tersebut ya tinggal di bawa pulang, kalau mau dibalikin ke kampus juga bisa dan 300 euro kamu akan kembali dengan catatan tanpa kerusakan dan kecacatan ya. Laptop ini karena sudah di program oleh kampus jadi tersedia akses ke software berlicense.

9)   Hot beverages machines

Kampus ini menyediakan fasilitas mesin kopi, dan chocolate yang bisa dinikmati kapanpun dan sebanyak apapun GRATIS. Mana hot chocolate nya enak banget lagi. Tea bag juga disediakan kalau ada yang mau minum teh.

Being Served All The Time

Terakhir saya merasa perlu memberikan credit kepada bagian Social Culture Office. Karena somehow kehidupan para mahasiswa menjadi dipermudah dan menyenangkan karena bantuan dari mereka. Program-program mereka antara lain penyambutan mahasiswa mulai dari dijemput di Bandara, dianter ke kosan, diajakin muter-muter Delft, dibantuin nyari kosan, kalau mau pindah kosan juga dibantu sama mereka, kalau mau pengurusan membawa keluarga untuk tinggal di Belanda, apalagi kalau kita mempunyai emergency tertentu entah itu sakit atau suatu hal yang mengharuskan kita kembali ke kampung halaman. Semua dibantu oleh mereka.

Wah, panjang sekali post kali ini. Semoga bisa menjadi bacaan yang bermanfaat ya 🙂

Xoxo,

Protected by Copyscape

Comments:

  • Februari 7, 2018

    Asik banget, jadi pengen juga kak ^^

    reply...
  • Mei 23, 2018

    halo kakak

    reply...
  • Juni 8, 2019

    Sungguh menginspirasi mbak. Boleh tahu project apa saja yang dikerjakan atau menjadi fokus IHE saat itu ya?

    reply...

post a comment